Loading images...

Meriana Wetipo: Inspirator Para Mama dan Putri Wamena

foto: Yenny Widjaya/Oxfam

Oleh: Yenny Widjaja dan Siprianus Guntur

Jika saja Meriana Wetipo, perempuan Wamena, Suku Dani, Papua, menghentikan mimpinya untuk mendapatkan pendidikan tinggi, mungkin dia tidak bisa seperti sekarang ini. Beraktifitas melakukan pendampingan bagi para perempuan Wamena untuk pengurangan risiko bencana, dan bekerja menjadi seorang PNS seperti yang dicita-citakannya.

Begitu semangatnya dia bekerja untuk masyarakat yang didampinginya hingga pelosok pedalaman, kadang dia mengabaikan keselamatannya sendiri. Hal ini pernah dialaminya  pada 10 April 2010. Saat dia nekat juga menuju desa dampingannya meski cuaca tengah hujan lebat, dan ancaman  rawan akan banjir  serta longsor bisa muncul tiba-tiba.

Tak ayal, ia pun terseret longsor dan terbawa arus Sungai Baliem. Kejadian itu  nyaris merengut nyawanya jika saja dia tidak berenang dengan keras dan seorang warga menemukan lalu menolongnya hingga dia terselamatkan.

“Padahal selama ini saya sudah mendapatkan banyak materi tentang ini (pengurangan risiko bencana-red), tetapi justru saya memaksakan diri dan (bersikap) tidak waspada, “ ujar perempuan berusia 31 tahun itu sambil  mengingat peristiwa itu.

Sejak peristiwa itu, Merry—panggilan akrabnya- semakin serius melibatkan dirinya dalam proses-proses pendampingan masyarakat, khususnya kepada para mama (sebutan untuk perempuan dewasa Papua) agar mereka bisa lebih mempersiapkan diri dan keluarga mereka menghadapi risiko banjir yang kerap terjadi.  .  

Karena menurutnya, perempuan juga memiliki kemampuan seperti halnya laki-laki untuk berkontribusi membangun keberdayatahanan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.

“Biasanya itu terjadi karena mereka tidak mempunyai kesempatan mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menghindari bencana itu sendiri dan bagaimana dia bisa hidup bersama bencana,”jelasnya suatu hari.

Merry menceritakan tentang dampak bencana banjir di Wamena yang bisa menghancurkan rumah, peternakan babi (yang hanyut dibawa air), lingkungan tidak sehat, akses transport termasuk ke pasar yang begitu sulit. Pada situasi seperti ini perempuan menjadi kelompok rentan terkena dampaknya dibandingkan laki-laki. Misalnya, karena banjir maka hilanglah kebun-kebun mereka yang selama ini menjadi sumber penghasilan dan lapangan kerja, semakin minimnya bahan pangan yang mereka simpan untuk kebutuhan keluarga, semakin rentannya kesehatan reproduksi karena rendahnya tingkat kesehatan lingkungan, dan sulitnya mereka mencari sumber air bersih. Termasuk rentannya perempuan menjadi korban kekerasan laki-laki akibat dampak tingkat ketertekanan jiwa laki-laki menghadapi dampak situasi setelah bencana.

Karenanya, di setiap kampung dampingan yang dikunjunginya, Merry bekerja bersama dengan para mama atau pun laki-laki agar aktif dalam penanggulangan bencana bersama. Dia juga  selalu berusaha menggali dan menyadarkan potensi para mama serta kekuatan mereka untuk bisa lebih bertahan secara ekonomi dan sosial  jika terjadi banjir di masa datang.

Alhasil beberapa mama di kampung –kampung dampingannya, kini sudah mulai berani berbicara dalam menguraikan pengalaman dan keingintahuan mereka tentang cara mengurangi risiko jika terjadi banjir. Sesuatu yang jarang bisa dilakukan sebelumnya di kalangan para mama.

Kabur dari rumah untuk sekolah

Merry mungkin hanya sedikit dari perempuan Wamena asli bahkan yang berasal dari Suku Dani yang melakukan kerja-kerja pengorganisasian dan penguatan bersama. Dia menjadi aktifis Yayasan TALI (Tangan Peduli), sebuah organisasi lokal di Wamena yang  bekerja untuk  isu-isu kemasyarakatan, termasuk kebencanaan dan perempuan. .

Tidak pernah terpikirkannya, kini dia bisa melakukan aktifitas seperti yang dia lakukan sekarang. Masih diingatnya benar bagaimana ayahnya yang adalah salah satu tokoh adat Suku Dani, memintanya untuk menikah saat usianya belum beranjak dewasa. Suatu hal yang umum bagi Suku Dani untuk menikahkan anak-anak perempuan mereka ketika mulai memasuki masa menstruasi. Perempuan bahkan dipandang tidak perlu mendapatkan pendidikan tinggi seperti halnya laki-laki. Kebanyakan perempuan Dani akan memiliki pasangan pilihan orang tuanya. Sementara laki-laki di masyarakat Dani diperkenankan untuk menikahi perempuan lebih dari satu. Perempuan hanya diidentikkan sebagai sosok yang hanya memiliki kemampuan bekerja mengurus rumah tangga.

“Saya menolak dinikahkan. Apalagi saya ingin menamatkan sekolah saya. Saya akhirnya melarikan diri ke rumah paman saya di Wamena dan bersekolah di sana,” jelas Merry.

Dia memang sempat menyerah dan menikah dengan pria pilihan orang tuanya yang tentara. Namun impiannya untuk mendapatkan pengetahuan di sekolah tetaplah tinggi. Dia pun memberanikan diri meminta izin kepada suaminya untuk melanjutkan sekolah yang tertunda, melalui Kejar Paket C. Di luar dugannya suaminya mengijinkan dan mendukungnya. Bahkan ketika dia ingin meneruskannya hingga bangku kuliah dan kini bekerja menjadi PNS dan aktifis TALI.

Sosoknya kini menjadi inspirator tidak hanya untuk para mama di Wamena tetapi juga para remaja putri bahkan para laki-laki.     

(Artikel diatas telah terbit dalam Newsletter  Building Resilience in Eastern Indonesia, Edisi II-BR-Oxfam Desember 2010-Februari 2011)

 

Sorry, comments for this entry are closed at this time.