Loading images...

Pertemuan Durban, Harapan Indonesia Untuk Keadilan Iklim

 

KBR68H-Manusia dan alam menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun sayangnya hidup selaras dan berdampingan tidak selalu bisa dijalankan antara manusia dan alam. Ini terbukti dengan makin rusaknya alam kita. Perubahan iklim yang tengah terjadi dewasa ini salah satunya disebabkan oleh ketidakharmonisan hidup antara manusia dan alam.

Menjaga dan melestarikan alam bukanlah pekerjaan satu dua orang saja. Bukan pula menjadi kewajiban satu dua negara saja. Inilah yang mendasari dari terbangunnya kerjasama internasional dengan diadakannya pertemuan antar negara membahas peribahan iklim dan dampaknya bagi manusia. Kali ini pertemuan diadakan untuk kali ke-17 dan diadakan di Durban Afrika.

COP-17 dan Arti Pentingnya

COP 17 adalah konvensi atau pertemuan negara-negara tentang perubahan iklim. Negara peserta konvensi ini adalah mereka yang menjadi anggota badan PBB untuk Lingkungan Hidup UNFCCC. “Dalam pertemuan ini dibagi dalam dua kelompok kerja. Mereka yang berkabung di bawah kelompok kerja adhoc di terikat bawah protokol kyoto dan kelompok kerja  yang berada di bawah protocol Kyoto termasuk Amerika Serikat,” Teguh Surya dari LSM Lingkungan Hidup Walhi menerangkan.

Teguh mengkritik pertemuan di Durban ini. “Lebih sering bertele-tele dan tidak menghasilkan sesuatu yang tidak bermanfaat,” kata Teguh. Sampai saat ini pertemuan Durban menghasilkan 4 opsi kesepakatan. Pertama, akan ada protocol atau opsi yang mengikat secara hukum. “Ada pecahan dari opsi ini. Yang pertama adalah yang diusulkan oleh negara-negara kecil. Keputusan yang mengikat ini harus disesuaikan dengan keputusan Bali dan keputusan Cancun,” kata Teguh. Opsi lain juga hadir dari hasil masukan negara-negara Uni Eropa dan Australia dan New Zealand. “Pada dasarnya mereka setuju ada aturan yang mengikat tapi hanya mekanisme pasar saja yang diikat lainnya tidak,” Teguh menjelaskan lebih lanjut.

Kedua, adanya pernyataan dari Amerika Serikat untuk tidak dibuat keputusan yang mengikat seperti protocol. Menurut Amerika yang dibutuhkan adalah keputusan COP saja. “Ini mengundang negara-negara lain untuk kemudian mengisolir Amerika Serikat,” ujar Teguh.

Opsi ketiga adalah opsi untuk melanjutkan diskusi dan mengikat secara hukum. Ini dikemukakan oleh negara-negara peserta asli COP seperti Brasil dan Cina.

Koordinator Aliansi Desa Sejahtera Tejo Jatmiko sepakat bahwa pertemuan ke 17 negara-negara soal iklim ini memang sebuah pertempuran besar tapi klasik. Itu sebabnya ia sangat menggaris bawahi arti pentingnya agenda pertemuan ini yang bisa dibawa oleh setiap negara. “Hidup dan mati bagi sebuah negara pertempuan ini. Tapi sayangnya hanya Indonesia yang tidak menganggapnya begitu.,” ujar Tejo. Tejo menyoroti Indonesia sebagai negara dengan anggota kontingen terbanyak namun tidak banyak memberikan kontribusi penting. “Persiapan yang tidak matang,” kata Tejo menjadi kunci utamanya. Persiapan yang paling penting menurut dia adalah persiapan di dalam negeri. Karena bagimanapun dampak dari pertemuan ini akan dirasakan samapai di pedesaan. “Dan masalah adaptasi belum sampai di masyarakat kita. Sadar memang di luaran yang sangat kencang di bahas hanyalah maslah mitigasi tapi untuk skala dalam negeri yang paling penting adalah adaptasi,” ujar Tejo. Dan inilah yang tidak diagendakan dibawa untuk diperbincangkan di KTT kata Tejo.

Dimana Posisi Indonesia?

Pertemuan Durban sebenarnya bisa jadi pertemuan yang membawa dampak banyak bukan hanya Indonesia tapi juga negara-negara lain. Para ahli sudah banyak yang mengemukakan teori mereka. Jika dalam 30 tahun ini tidak ada pemotongan emisi secara besar-besaran dan drastis maka kimat sudah pasti hadir. Namun sayangnya pertemuan ini malah tidak bisa diagendakan secara serius oleh banyak negara berkembang terutama Indonesia untuk mendorong negara berkembang agar mengurangi emisi mereka.

“Keputusan di COP 17 ini harusnya benar-benar dimanfaatkan terutama untuk membahs protocol Kyoto. Tahun 2012 itu menjadi akhir pelaksanaan Protocol Kyoto. Tahun ini terakhir dan tahun depan sudah expired,” Teguh Surya memberikan alasan mengapa kiranya COP 17 harus lebih berdaya guna.

Tejo Jatmiko sepakat dengan apa yang dikatakan teguh Surya. Menurutnya delegasi Indonesia menjadi kehilangan jati dirinya. Padahal sebagai sebuah negara kepulauan Indonesia menjadi negara yang paling terkena dampak perubahan iklim dengan mencairnya es di kutub. “Kita terkadang terbuai dengan banyaknya dana bantuan dan hibah. Seringkali tidak menyadari maksud-maksud dibelakangnya. Jadi seperti anak kecil dikasih manisan. Enak tapi bikin sakit,” kata Tejo.

Posisi Indonesia yang sebelumnya sanagat baik di mata dunia saat berhasil menelurkan kesepakatan Bali Road Map menjadi hilang. Baik Tejo maupun Teguh Surya sepakat Indonesia jauh menjadi melemah posisi tawarnya. Bahkan diantara negara-negara berkembang lainnya. Indonesia menjadi pihak yang dengan mudah mengalah pada keinginan Amerika Serikat.

Indonesia menurut Tejo Jatmiko dan Teguh Surya tepat berada diantara negara yang terdampak langsung perubahan iklim. “Sudah banyak nelayan kita yang mati saat melaut akibat cuaca ekstrim dari perubahan iklim. Banyak sawah kita yang tidak menghasilkan dan pemerintah hanya memberikan asuransi bagi 100 petani gagal panen,” ujar Tejo. Apa yang dihasilkan di Durban tentu menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu terutama bagi masyarakat kita. Mungkin tidak secara langsung tapi masyarakat terutama di pedesaan dan pesisirlah yang merasakan langsung dampak dari pertemuan ini jika semua hal yang baik disepakati secara utuh dan satu kesatuan.

Perbincangan ini kerjasama KBR68H dengan OXFAM.

Sumber:

http://kbr68h.com/perbincangan/diskusi-lepas/17755-pertemuan-durban-harapan-indonesia-untuk-keadilan-iklim

Sorry, comments for this entry are closed at this time.