Loading images...

SOSOK: SULNIATI PENDEKAR PRB DARI KAKI RINJANI

Desa Sembalun Bumbung terletak di kaki Gunung Rinjani Kabupaten Lombok Timur. Daerahnya yang berbukit-bukit dan dilalui sungai besar, membuat desa ini rentan terhadap ancaman bencana alam. Beberapa kali banjir bandang, badai angin juga tanah longsor menghampiri desa ini. Bahkan tahun 2006 saat banjir bandang datang, dua orang warganya menjadi korban. Hal ini yang membuat Sulniati terpanggil untuk mengabdikan dirinya terhadap usaha-usaha pengurangan risiko bencana (PRB). Namun ia sadar bahwa upaya ini tidak bisa dilakukannya seorang diri. Warga desa juga harus diajak untuk lebih peduli dan aktif melakukan upaya PRB tersebut.

Karena Dia Perempuan

Tahun 2010 melalui Program Membangun Ketahanan terhadap Bencana, terbentuklah Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) di Desa Sembalun Bumbung. Tanpa ragu, Sulniati mendaftarkan dirinya untuk bergabung ke dalam TSBD. Bahkan ia dipercaya menduduki posisi ketua. Awalnya peran Sulniati sebagai ketua TSBD dan juga kiprahnya hanya dipandang sebelah mata oleh sebagian warga desanya. Hal ini terjadi karena Sulniati adalah seorang perempuan. Warga menganggap bahwa urusan kebencanaan itu identik dengan tenaga fisik, dan itu menjadi tugas la-ki-laki.

“Karena saya seorang perempuan, pada awalnya dari warga ada pandangan yang meragukan kemampuan saya. Tetapi saya cuek saja dan menurut saya tugas perempuan tidak hanya di dapur, sumur dan kasur. Perempuan bisa berbuat lebih banyak bagi kemajuan desa,” katanya dengan lugas. Sulniati menambahkan bahwa selaku ketua TSBD ia harus mampu berpikir strategis mengarahkan kegiatan TSBD tidak hanya saat terjadi bencana saja, tetapi juga saat tidak terjadi bencana dan setelah ada bencana.

Langkah awal yang dilakukannya selaku ketua TSBD adalah mengajak anggotanya untuk mengenali tanda-tanda alam sebagai bagian dari sistem peringatan dini. Setelah itu mereka membuat standar operasional prosedur (SOP) mengenai sistem peringatan dini. Tugas  berikutnya adalah mensosialisasikannya kepada warga termasuk menyepakati beberapa alat bantu peringatan dini seperti penggunaan pengeras suara yang dibawa keliling untuk menyampaikan informasi kebencanaan.

Tak lama setelah itu, hujan yang lebat disertai angin kencang melanda desa. Karena warga sudah diberitahu untuk bersiap, maka jatuhnya korban bisa dihindari. Sejak saat itu warga sadar bahwa upaya PRB tidak bisa dianggap remeh. Maka mereka mendukung penuh kiprah Sulniati dan ikut aktif melakukan usaha PRB. Saat ini Sulniati bersama warga desa sedang mendorong lahirnya peraturan desa yang mengatur tentang upaya pengurangan risiko bencana.

Sekolah dan Posyandu

Langkah Sulniati untuk melakukan penyadaran tentang pengurangan risiko bencana tidak berhenti hanya di lingkup desa. Sulniati yang sehari-hari bertugas sebagai guru di MTsNW Pangsor Gunung tak lupa selalu menyisipkan pesan tentang PRB kepada para siswanya. ”Biasanya lima menit sebelum masuk ke inti pembelajaran, saya mengingatkan dan mengajak kepada siswa untuk selalu peduli dan menjaga lingkungan di sekitar mereka. Karena itu adalah bentuk ungkapan rasa syukur kita atas karunia Ilahi,” ujar Sulniati.

Selain sebagai ketua TSBD, Sulniati juga seorang kader Posyandu. Bagi Sulniati  perempuan adalah komponen penting dalam upaya PRB. Mereka harus diberi tambahan pengetahuan dan kemampuan sehingga nantinya menjadi tangguh dan selalu bersiap terhadap segala macam kerentanan. Ini yang menjadi dasar baginya untuk selalu memberikan sosialisasi tentang PRB bagi ibu-ibu pada saat kegiatan Posyandu berlangsung. “Hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan ibu-ibu terkait usaha pengurangan risiko bencana adalah menjadi motor penggerak di keluarganya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan,” tambahnya lagi.

Pengakuan terhadap kiprah Sulniati tidak hanya diberikan oleh warga di desanya saja. Beberapa kali Polsek Sembalun mengajak Sulniati untuk memberikan materi tentang PRB bagi siswa SMP dan SMA Bhayangkara. Sulniati juga berharap nantinya ia dapat berbagi pengalaman dengan masyarakat di luar daerahnya. Bagi ibu satu orang putri ini usaha-usaha terkait PRB harus dilakukan secara terus-menerus. “Tidak ada kata capek untuk setiap hal yang berhubungan dengan kemanusiaan. Dan saya akan mengabdikan hidup saya untuk kegiatan pengurangan risiko bencana,” tekadnya. (Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

Sorry, comments for this entry are closed at this time.