Loading images...

Tak Cukup Hanya Menulis

Tak Cukup Hanya Menulis

Oleh Muhary Wahyu Nurba untuk Oxfam

SEORANG nenek tua, warga setempat menyebutnya Mama, memanggil anak muda itu dengan lambaian tangan. Si anak muda itu lalu berlari kecil menghampiri Mama. Keduanya kemudian terlibat pembicaraan singkat dan hangat yang diakhiri dengan saling tersenyum.

“Panggil saja Roni agar lebih akrab,” Roni menjelaskan. Bagi warga Malaka, Roni bukanlah pria asing di wilayah itu. Para sesepuh bahkan ada yang menganggapnya seolah-olah anak sendiri karena begitu akrabnya mereka dengan Roni.

Sejak tahun 2004, Roni memang sering ke Malaka sebagai reporter koran Timor News yang wilayah peredarannya di Belu dan sekitarnya. Ia meliput banyak hal, tapi yang paling sering ditulis di medianya lebih banyak tentang banjir di Malaka. Banjir di Malaka seperti tamu tahunan dan telah berlangsung sejak tahun 1939.

Lalu pada suatu waktu Roni sadar bahwa tulisan tentang dampak banjir di medianya tak banyak menolong warga Malaka. Harus ada suatu tindakan yang lebih nyata. Pada saat yang bersamaan ia berjumpa dengan beberapa teman Perhimpunan Masyarakat Peduli Bencana (PMPB) Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang melakukan assesment di Belu Selatan, salah satunya Ipi Seli Seng. Belu jadi perhatian PMPB karena merupakan langganan banjir.

Dari perbincangannya dengan Ipi, Roni tertarik bergabung di PMPB, apalagi program itu memungkinkan dia menulis sekaligus membantu mendampingi masyarakat. “Pak Ipi bilang bahwa mungkin akan butuh salah satu staf atau tenaga untuk membantu berkomunikasi dengan masyarakat sekitar karena warga di sana ada yang bisa Bahasa Indonesia ada yang tidak,” kata Roni.

Tahun 2006, Roni akhirnya bergabung dengan PMPB sebagai staf logistik untuk membantu program rehabilitasi sumur sehat bagi masyarakat Belu Selatan. Ada 52 sumur sehat percontohan yang dibuat oleh Oxfam di 10 desa dalam wilayah tiga kecamatan.

Dari staf logistik, Roni menjadi Asisten Project Officer (PO) untuk Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sebagai Assistant Project Officer, Roni bertugas melakukan pendekatan terhadap pemerintahan desa, kabupaten, dan provinsi, serta kepada masyarakat. Ia laksana fasilitator untuk berbagai kegiatan, termasuk pada program Pengurangan Risiko Bencana  (PRB).

Oxfam melalui PMPB menjadikan Belu khususnya Belu Selatan sebagai wilayah program PRB karena sering kena ancaman banjir dari Sungai Benanain. Hampir setiap tahun banjir datang dan paling parah terjadi pada tahun 1939, 1975, 2000, serta beberapa tahun terakhir.

Banjir besar ini menelan banyak korban jiwa, ternak warga hanyut, begitu pula dengan rumah warga. Dari fakta itu, PMPB lalu melakukan pendampingngan di beberapa desa.

Pada tahun 2007, Roni bersama rekan-rekannya ikut melakukan penguatan kapasitas dalam program Community Based Disaster Risk Management (CBDRM). program ini menekankan pentingnya partispasi aktif masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana. Dalam pelaksanaannya PMPB ikut terlibat dengan masyarakat untuk berdiskusi secara rutin di tiap tiap dusun untuk belajar bersama mengenali banjir dan bahayanya, serta kemungkinan apa yang harus ditempuh untuk mengatasi dampak banjir. Hasil diskusi inilah yang kemudian dijabarkan pada suatu program yang disepakati bersama. Salah satunya rutin menggelar pelatihan simulasi penanggulangan bencana dan cara menyelamatkan diri dari bahaya banjir.

Menurut Roni, tidaklah mudah mengubah kebiasaan masyarakat setempat agar bisa duduk bersama memecahkan masalah melalui diskusi. Ada beberapa warga yang lebih suka langsung mengatasi masalah ketika masalah itu datang. Mereka sama sekali tidak pernah memiliki rencana antisipasi. Ada pula yang enggan dan menolak berdiskusi karena menganggap hal itu sia-sia belaka. Bahkan sejumlah orang menolak ikut pada kegiatan program yang difasilitasi Oxfam melalui PMPB.

“Mereka pikir, program ini sarat dengan muatan politik. Kebetulan pada saat yang bersamaan berlangsung pemilihan kepala daerah di Belu,” kata Roni. Namun secara perlahan, segala prasangka dan keengganan berubah menjad antusiasme setelah PMPB giat melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh masyakarat, tokoh adat, tokoh pemerintah, dan tokoh pemuda untuk menemui mereka. PMPB dan pihak pemerintahan desa juga memfasilitasi pemilihan tenaga fasilitator di tiap dusun yang berasal dari perwakilan warga. Langkah ini dipandang efektif karena fasilitator menjadi simbol keterwakilan warga pada program itu. Para fasilitator inilah yang menjadi jembatan komunikasi maupun penyampaian gagasan dari PMPB dan pemerintahan desa ke warga. Begitu pula sebaliknya.

Setelah sekian lama berada di Belu, Roni pun sadar tugasnya akan berakhir menyusul selesainya program Oxfam di Belu. “Beberapa waktu lalu, PMPB sudah mengirim surat exit program kepada kepala desa, bupati, dan gubernur sebagai pertanda selesainya program Oxfam di wilayah tersebut.  Dokumen mengenai tahapan program dan hasilnya juga sudah diserahkan ke pemerintah setempat.

Meskipun berakhir tapi saya puas karena kami akhirnya bisa mewariskan sesuatu yang baik ke warga,” kata Roni.

Sebagai putra daerah, Roni menegaskan sangat berterima kasih atas program Oxfam di wilayah Belu. Sudah banyak program bantuan yang pernah dilaksanakan di Belu, tapi apa yang dilakukan Oxfam, termasuk yang paling berkesan dan memberi manfaat langsung dan berkepanjangan.

Roni berharap, pemerintahan desa bisa melanjutkan program tersebut apalagi program ini telah mengilhami terbentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Belu.**

Sorry, comments for this entry are closed at this time.